TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Posted by Aldi Al Bani Friday, January 4, 2013 0 komentar

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN KURIKULUM


                                        Oleh:
Aldi Al Bani 

                                              Dosen Pengampu: Dr. Hj. Suti’ah, M. Pd



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Filsafat merupakan satu istilah yang berasal dari bahasa Yunani kuno yang kemudian dalam bahasa Arab disebut falsafat, di sini kemungkinan terjadi pengadopsian bahasa yang sedikit berbeda dalam cara membacanya. Filsafat merupakan istilah yang digunakan oleh orang Indonesia. Jika kita perhatikan satu kata ini tidak jauh berbeda dalam penyebutannya dalam berbagi bahasa, sebagaimana yang telah diketahui. Kemudian perlu kita ketahui apa sebenarnya arti filsafat tersebut.
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia yang terbentuk dari dua unsur kata, yaitu philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kearifan, hikmah, kebijaksaan, keputusan atau pengetahuan yang benar, secara dasar arti filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Dari pengertian di atas menghendaki bahwa filsafat merupakan suatu kegiatan yang menuntut untuk melakukan sesuatu dengan kualitas terbaik. Ini merupakan kerja pikiran, sehingga sering sekali berfilsafat diartikan sebagai berpikir mendalam atau radikal untuk menemukan realitas kebenaran sejati dari sesuatu. Sulit ditemukan arti filsafat secara hakiki, namum setidaknya berfilsafat itu merupakan berfikir sistematis dan penuh kehati-hatian untuk membuktikan kebenaran atau hakikat suatu yang dipikirkan.
Kebenaran yang dihasilkan filsafat berbeda dengan yang dihasilkan ilmu pengetahuan. Ini dikarenakan kajian filsafat lebih bersifat unviersal sedangkan ilmu pengetahuan bersifat parsial dan terpisah-pisah sesuai dengan kajiannya masing-masing dalam disiplin ilmu tertentu dengan ketentuan sistematis, logis, dan empiris.
Meskipun filsafat pendidiakan telah menjadi kajian tersendiri, hal ini tidak menyebabkan filsafat pendidikan terlepas sama sekali dengan filsafat itu sendiri. Yang menjadi kajian dalam filsafat pendidikan adalah persoalan-persoalan yang berhubungan dengan seluk beluk pendidikan secara khusus, maka berarti upaya filosofis diarahkan pada suatu kajian yang dalam hal ini adalah problem kependidikan sebagai sebuah realitas. Hubungan filsafat pendidikan dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, karena filsafat pendidikan bertugas merumuskan prinsip-prinsip yang nantinya akan menjadi teori dari pendidikan itu sendiri untuk memecahkan berbagai permasalahan pendidikan yang ada.
Filsafat pendidikan dengan menggunakan cara kerja filsafat pada umumnya dalam mencari hakikat sesuatu lebih menekankan pada perenungan dan refleksi-refleksi atas realitas yang terdapat dalam dunia kependidikan anatara lain tentang hakikat manusia, pendidikan itu sendiri, tujuan kependidikan, pendidik dan anak didik, hakikat pengetahuan, kurikulum, metode, dan lain sebagainya.
Jika kita renungi, seolah-olah kajian yang kita pelajari adalah tentang hasil pemikiran-pemikiran para filosof sepanjang masa. Tujuan yang diinginkan adalah bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan hidup manusia di dunia ini, karena dalam kehidupan manusia selalu melekat berbagai problematika baik secara individu maupun kelompok. Dari sinilah mulai munculnya aliran-aliran filsafat,  dan hal ini juga terjadi dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan karena bersumber dari filsafat. Makalah ini akan mengkaji tentang tipologi filsafat pendidikan, lebih spesifik kepada filsafat pendidikan Islam yang tentunya bersandar padai sumber-sumber ajaran Islam. Demikian juga implikasi aliran-aliran tersebut terhadah pengembangan kurikulum.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, perlu dirumuskan beberapa poin yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini antara lain.
1.      Apa saja aliran-aliran dalam filsafat pendidikan?
2.      Apa sebenarnya filsafat pendidikan Islam?
3.      Bagaimana pemikiran Islam dalam filsafat pendidikan Islam?
4.      Bagaimana implikasi tipologi filsafat pendidikan Islam terhadap pengembangan kurikulum?
C.    Tujuan Makalah
Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan makalah ini adalah.
1.      Untuk mengetahui aliran-aliran dalam filsafat pendidikan.
2.      Untuk mengetahui filsafat pendidikan Islam.
3.      Untuk mengetahui pemikiran Islam dalam filsafat pendidikan Islam.
4.      Untuk mengetahui implikasi tipologi filsafat pendidikan Islam terhadap pengembangan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Aliran-aliran dalam Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan merupakan ilmu yang tergolong relatif masih baru. bidang ini baru berkembang pesat pada awal abad ke 20 meskipun dasar-dasarnya telah ada sejak zaman Yunani. Filsafat pendidikan muncul dalam rangka memecahkan berbagai problematika yang ada khususnya dalam bidang pendidikan. Ada beberapa aliran dalam filsafat pendidikan yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu tradisional dan kontemporer. Yang termasuk dalam kelompok tradisional adalah perennialism dan essensialism. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok kontemporer adalah progressivism, reconstructionism, dan existentialism. Namun di sini hanya akan dijelaskan empat dari aliran tersebut yaitu progressivism, perennialism, essentialism, dan reconstructionism.
1.      Progresivisme
Aliran ini merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang pada abad 20 dan cukup  berpengaruh pada pembaruan pendidikan. Perkembangan didorong oleh aliran naturalisme dan ekperimentalisme, instrumentalisme, environmantalisme, dan pragmatisme sehingga progresivisme disebut dalam aliran tersebut. Progresivisme dalam pandangannya selalu berhubungan dengan pengertian  the liberal road to cultural, yakni lebih bersifat fleksibel, toleran dan bersifat terbuka akan hal-hal yang baru untuk mengetahui dan menyelidiki demi pengembangan pengalaman. Aliran ini disebut juga aliran naturalisme, yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta (bukan kenyataan spiritual dan supranatural).[1]
Progresivisme beranggapan bahwa kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh manusia tidak lain adalah karena kemampuannya sendiri dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan tata logis dan sistematisasi berpikir ilmiah. Oleh karena itu, yang menjadi tugas pendidikan adalah melatih kemampuan-kemampuan subjek didiknya dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan yang mengarah pada pembagian ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan dalam masyarakat.[2]
Pendidikan progresivisme selalu menekankan pertumbuhan dan perkembangan pemikiran dan sikap mental dalam pemecahan masalah atau rasa percaya diri peserta didik. Progres atau kemajuan akan melahirkan perubahan dan perubahan akan melahirkan pembaruan. Aliran ini meyakini bahwa manusialah yang memilihi kemampuan dalam menghadapi barbagai problem kehidupan dan bahkan mengancam manusia itu sendiri. Pendidikan dianggap sebagai alat penyelamat bagi manusia demi masa depan. Tujuan pendidikan bersifat penyusunan kembali pengalaman-pengalaman yang terus-menerus dan bersifat progresif. Progresif memiliki nilai positif dari aliran ini. Aliran ini tidak setuju dengan adanya pendidikan yang bercorak otoritas dan absolut dalam segala bentuknya, sebagaimana terdapat dalam agama, moral, politik dan lain sebagainya.[3] Maka dari sinilah pendidikan modern yang berupaya menyatukan antara teori dan praktiknya terwujud, karena dalam progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang terpisah.
Aliran ini menekankan pada pendidikan atau pembelajaran di sekolah bersifat terpusat pada anak (student center), hal ini merupakan reaksi dari pelaksanaan pendidikan yang terpusat pada pendidik atau bahan pelajaran. Pendidikan aliran ini bertujuan untuk melatih anak agar kelak dapat bekerja menggunakan otak dan hati.[4]
Pendidikan merupakan proses perkembangan, oleh karena itu seorang pendidik dituntut untuk selalu siap memodifikasi berbagai metode dan strategi dalam pengupayaan ilmu pengetahuan terbaru dan berbagai perubahan yang menjadi kecenderungan dalam suatu masyarakat. Pendidikan mestinya harus dimaknai sebagai sebuah proses. Inti pendidikan bagi aliran ini terdapat pada anak didik, karena anak didik pada dasarnya memiliki potensi rasio dan intelektual yang berkembang melalui pengkondisian pendidikan. Oleh karena itu semua aktivitas kependidikan harus diarahkan kepada penyediaan kondisi yang memungkinkan anak didik mengembangkan potensi dirinya.[5]
Dari uraian di atas, aliran progresivisme merupakan aliran yang menghendaki adanya kesatuan antara teori dan praktik dalam proses pendidikan. Hal ini bisa tercermin dalam sekolah-sekolah kejuruan yang menekankan pada aplikasi dari teori yang telah dipelajari secara langsung dan bukan hanya menjadi pengetahuan semata. Anak didik dalam aliran ini diyakini memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Sebagaimana diketahui bahwa setiap manusia telah dibekali skill atau kemampuan dasar, hanya saja untuk mengembangkan semua itu terkadang membutuhkan bimbingan.
2.      Perennialisme
Perennialisme berasal dari kata perennial yang diartikan sebagai continuing throughout the whole year atau lasting for  a very long time abadi atau kekal dan dapat berarti juga tiada akhir.[6] Kepercayaan pada aliran ini berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat kekal abadi. Melihat zaman yang semakin maju aliran ini memberikan sebuah konsep jalan keluar yaitu “regressive road to cultural” yakni kembali kepada kebudayaan masa lampau yang masih ideal. Karena itulah aliran ini menganggap penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan keadaan manusia sekarang kepada kebudayaan masa lalu yang dianggap cukup ideal dan telah teruji kehandalannya dalam menahan arus keterbelakangan budaya.[7] Dalam pengertian yang lain, Perennialisme memandang tradisi sebagai prinsip-prinsip yang abadi yang terus mengalir sepanjang sejarah umat manusia, karena ia adalah anugerah Tuhan pada semua manusia dan merupakan hakikat insaniah manusia.[8]
Perennialisme melihat zaman sekarang sedang mengalami krisis kebudayaan karena kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Dalam rangka mengatasi gangguan kebudayaan ini maka diperlukan usaha untuk menemukan dan mengamankan lingkungan sosio-kultural, intelektual, dan moral. Dan ini menjadi tugas filsafat dan filsafat pendidikan. Regresif, merupakan salah satu langkah yang ditempuh untuk mengatasi masalah ini. Regresif meruapakan kembalinya kepada prinsip umum yang ideal yang dijadikan dasar untuk bertingkah pada zaman kuno dan abad pertengahan.[9]
Aliran ini pada perkembangannya banyak dipengaruhi oleh tokoh seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Plato menguraikan ilmu pengetahuan dan nilai sebagai manifestasi dan hukum universal yang abadi dan ideal. Menurut Plato manusia memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan, dan akal. Program pendidikan yang ideal  berorientasi kepada tiga potensi itu agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan  masyarakat dapat terpenuhi. Ide Plato kemudian dikembangkan oleh Aristoteles  yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah kebahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan maka aspek fisik, intelek, dan emosi harus dikembangkan secara seimbang, bulat, dan totalitas. Lain lagi dengan Thomas Aquinas yang mengatakan tujuan pendidikan adalah perwujudan kapasitas (potensi) yang ada dalam diri anak didik  agar menjadi aktif dan aktualitas. Karena itu, maka peran pendidik di sini adalah mengajar dalam arti memberi bantuan kepada anak didik untuk berpikir jelas dan mampu mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak didik.[10]  
Perennialisme adalah aliran yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan pendidikan merupakan pancarian dan penanaman nilai tersebut. Tujuan pendidikan aliran ini untuk membantu anak didik untuk menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki. Metode yang digunakan kebanyakan adalah diskusi dan analisis buku, dan berpusat pada materi ajar. Murid dipandang sebagai makhluk rasional yang dibimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran hakiki. Pendidik merupakan orang yang berperan dominan dan harus menguasai materinya dalam proses pendidikan.[11]
Aliran ini memandang pendidikan bukan sebagai imitasi kehidupan, namun merupakan suatu upaya untuk mempersiapakan kehidupan. Sekolah tidak akan pernah menjadi situasi yang riil. Anak hanya menyusun dan merancang di mana ia belajar dengan prestasi-prestasi warisan budaya masa lalu. Tugas seorang anak didik adalah belajar dan merealisasikan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh leluhur dan bila memungkinkan untuk meningkatkan prestasi yang dimiliki melalui usaha sendiri.[12] Prinsip dasar pendidikan aliran ini adalah membantu anak didik menemukan dan menginternalisasi kebenaran abadi, karena kebenarannya mengandung sifat universal dan tetap. Aliran ini meyakini bahwa pendidikan merupakan alat transfer ilmu pengetahuan tentang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah suatu kebenaran dan kebenaran selamanya memiliki kesamaan. Aliran ini menilai belajar itu untuk berfikir.[13]
Krena itu pendidikan merupakan alat untuk menyampaikan apa yang menjadi kebanggaan pada masa lalu, maka organisasi pendidikan hanyalah sekedar perantara semata dalam menurunkan nilai-nilai kebenaran yang bersifat sama dari satu generasi ke generasi berikutnya.
3.      Esensialisme
Aliran esensialisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama, karena kebudayaan lama dipandang telah melakukan banyak kebaikan untuk manusia. Kebudayaan lama ini telah ada sejak masa Renaissance dan tumbuh berkembang. Kebudayaan lama melakukan usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesenian zaman Yunani dan Romawi kuno. Aliran ini merupakan gabungan antara ide filsafat idealisme dan realisme.[14]
Dalam konteks pendidikan, aliran ini memiliki ciri khusus yang menekankan  bahwa pendidikan harus dibangun di atas nilai-nilai yang kukuh, tetap, dan stabil.[15] Aliran ini percaya bahwa pelaksanaan pendidikan memerlukan modifikasi dan penyempurnaan sesuai dengan kondisi manusia yang bersifat dinamis dan selalu berkembang, melihat pengembangan manusia yang selalu berada di bawah azas ketetapan dan natural, maka pendidikan harus dibina atas dasar nilai-nilai yang kukuh dan awet supaya memberikan kejelasan dan kestabilan arah bangunannya.[16]
Aliran ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah, mudah goyah, kurang terarah, dan tidak menentu serta kurang stabil. Hal ini sangat kontra dengan pandangan progresivisme yang mengatakan pendidikan itu penuh fleksibilitas, serba terbuka untuk perubahan, terlepas dari doktrin tertentu, toleran dan nilai-nilai dapat berubah dan berkembang.[17]
Aliran esensialisme dalam hal pendidikan  didasari oleh pandangan humanisme, yang merupakan reaksi terhadap hidup yang terlalu mengarah kepada keduniaan, serba ilmiah, dan materialistik.[18] Pendidikan didasari pada realitas dan dogmatis. Karena dunia ini bersifat dinamis dan memiliki tujuan maka pendidikan bertujuan untuk membentuk anak didik sesuai kehendak Tuhan. Tujuan suatu pendidikan bagi aliran ini adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui inti pengetahuan yang telah terhimpun. Metode pendidikan masih bersifat terpusat pada guru. Guru berperan sebagai contoh dalam memulai nilai-nilai atau penguasaan pengetahuan dan gagasan-gagasan.[19]
Pada hakikatnya aliran ini bertujuan untuk membentuk pribadi bahagia di dunia dan di akhirat. Kandungan pendidikannya ditetapkan berdasarkan kepentingan efektivitas pembinaan kepribadian yang mencakup ilmu pengetahuan yang harus dikuasai dalam kehidupan dan mampu menggerakkan keinginan manusia.[20]
Hemat penulis, bahwa esensialisme mengakui akan adanya perubahan dalam dunia ini dan menilai masa ini dalam kekacauan, oleh karena itu aliran ini menginginkan penanaman kembali nilai-nilai pada masa kejayaan dulu untuk masih diterapkan pada masa sekarang. Namun untuk menjadi pribadi yang baik, pendidikan itu harus dilandasi dengan nilai-nilai kebenaran atau doktrin yang ada pada masa sebelumnya yang bersifat tetap.
4.      Rekonstruksionisme
Aliran ini sepaham dengan aliran perennialisme dalam menghargai krisis kebudayaan modern. Namun yang membedakannya di sini adalah caranya. Sesuai istilah yang dikandungnya, yaitu berusaha membina suatu konsensus yang terluas dan mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.[21]
Aliran ini juga biasa disebut dengan aliran rekonstruksi sosial karena berupaya merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan baru yang bercorak modern. Aliran ini meyakini bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sosial. Karena mengingat eksistensi pendidikan dalam keseluruhan realitasnya diarahkan untuk pengembangan dan perubahan masyarakat. Aliran ini percaya bahwa manusia memiliki potensi fleksibel dan kukuh baik dalam sikap dan tindakannya. Merupakan hal yang sangat berharga dalam kehidupan manusia itu, jika ia memiliki kesempatan yang cukup untuk mengembangkan potensi dirinya secara sempurna. Pendidikan adalah jawaban dari keinginan potensial manusia tersebut.[22]  
Dalam usahanya mencapai tujuan tersebut, aliran ini berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan yang baru. Maka, melalui lembaga dan proses pendidikan, aliran ini merombak tata susunan lama dan menggantikannya dengan tata susunan hidup kebudayaan yang benar-benar baru. Tujuan ini akan tercapai melalui usaha bersama dan bekerja sama dengan seluruh bangsa. Aliran ini memiliki ide bahwa bangsa di dunia ini telah sadar dan akan tumbuh untuk menciptakan satu dunia baru dengan kebudayaan yang baru, di bawah satu kedaulatan dunia dengan pengawasan manusia.[23]
Pemerintahan secara demokratis merupakan salah satu contoh keberhasilan dari aliran ini. Dunia diatur oleh banyak orang dan bukan diatur dan diperintah oleh satu golongan. Cita-cita puncak aliran ini adalah mewujudkan dan melaksanakan satu sintesis, yakni ajaran agama dengan demokrasi, teknologi modern, dan seni modern di dalam satu kebudayaan yang dibina bersama oleh seluruh bangsa di dunia.[24]  Organisasi pendidikan dalam aliran ini dipandang sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi, dan politik dalam masyarakat. Metode dalam pendidikan aliran ini bersifat analisis kritis terhadap problematika masyarakat dan kebutuhan-kebutuhan progmatik untuk perbaikan. Karena itulah metode pemecahan masalah, analisis kebutuhan merupakan hal yang ditekankan aliran ini.[25]
Problem based learning merupakan cara yang tepat untuk belajar bagi aliran ini, karena ia menghendaki supaya anak didik mampu membaca dan sekaligus diharapkan mampu menyelesaikan masalah dan menciptakan hal-hal atau aturan yang baru yang lebih baik dari sebelumnya di bawah satu kesatuan yang bercorak modern.

B.     Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan Islam sebagaimana pendapat al-Syaibani yang dikutip oleh Ahmad Syar’i menjelaskan bahwa filsafat pendidikan Islam adalah prinsip-prinsip dan berbagai kepercayaan yang berasal  dari ajaran Islam atau minimal sesuai dengan jiwa Islam yang mendukung dan memiliki kepentingan pelaksanaan dan bimbingan dalam bidang pendidikan.
Dalam filsafat Islam juga akan mengkaji tiga pijakan yaitu  ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
1.      Ontologi
Filsafat pendidikan Islam bertitik tolak pada manusia dan alam (the creature of God). Sebagai pencipta, Tuhan telah mengatur alam ciptaan-Nya. Pendidikan berpijak dari human sebagai dasar perkembangan dalam pendidikan. Seluruh aktivitas hidup dan kehidupan manusia adalah transformasi pendidikan.[26]
Yang menjadi dasar kajian filsafat pendidikan Islam di sini adalah sebagaimana yang tercantum dalam wahyu mengenai pencipta, ciptaan-Nya, hubungan antara ciptaan dan pencipta, hubungan antara sesama ciptaan-Nya dan utusan yang menyampaikan risalah (rasul).
2.      Epistemologi
Landasan ini merupakan dasar ajaran Islam yaitu al-Quran dan al-Hadits. Dari kedua sumber itulah muncul pemikiran-pemikiran terkait masalah-masalah keislaman dalam berbagai aspeknya termasuk filsafat pendidikan. Apa yang tercantum dalam al-Quran dan al-Hadits merupakan dasar dari filsafat pendidikan Islam. [27] Hal ini pada dasarnya selaras dengan hasil pemikiran para filosof Barat, karena akal sehat tidak akan bertentangan dengan wahyu. Jika terjadi ketidakcocokan berarti itu bukan karena kesalahan wahyu itu, namun itu adalah hasil pikiran yang belum mampu menjangkau apa yang dimaksudkan oleh landasan tersebut.
3.      Aksiologi
Yang tidak kalah pentingnya adalah kandungan nilainya dalam bidang pendidikan. Ada tiga hal yang menjadi nilai dari filsafat pendidikan Islam yaitu, a. Keyakinan bahwa akhlak termasuk makna yang terpenting dalam hidup, akhlak di sini tidak hanya sebatas hubungan antara manusia, namun lebih luas lagi sampai kepada hubungan manusia dengan segala yang ada, bahkan antara hamba dan Tuhan. b. Meyakini bahwa akhlak adalah sikap atau kebiasaan yang terdapat dalam jiwa manusia yang merupakan sumber perbuatan-perbuatan yang lahir secara mudah. c. Keyakinan bahwa akhlak islami yang berdasar syari’at yang ditunjukkan oleh berbagai teks keagamaan serta diaktualkan oleh para ulama merupakan akhlak yang mulia.[28]
Bertolak dari tiga kajian di atas, yaitu ontologi, epistemolog, dan aksiologi dari pendidikan Islam, setidaknya kita telah memiliki pandangan dan arah yang akan dilakukan oleh filsafat pendidikan Islam tersebut.
C.    Pemikiran Filsafat Pendidikan Islam
Pemikiran filosofis pendidikan Islam dapat kita lihat dari pola pemikiran Islam yang berkembang di dunia saat ini, terutama dalam menjawab berbagai tantangan  dan perubahan yang selalu terjadi dan akan terjadi pada era modernitas. Ada empat model pemikiran keislamaman menurut Abdullah (1996) yang dikutip oleh Muhaimin, yaitu 1. Model Tekstualis Salafi; 2. Model Tradisionalis Madzhabi; 3. Model Modernis; dan 4. Model Neo-Modernis.
1.      Tekstualis Salafi
Aliran ini berusaha untuk memahami ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Sunnah dan melepaskan diri dari atau kurang memperhatikan konteks dinamika pergumulan masyarakat muslim yang mengitarinya baik pada era klasik ataupun modern. Masyarakat yang diidam-idamkan adalah masyarakat salaf di era nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya. Landasan pemikiran aliran ini hanya ada dua yaitu al-Quran dan al-Sunnah dan tanpa menggunakan pendekatan keilmuan yang lain.[29] Dalam menjawab berbagai tantangan zaman, aliran ini hanya menggunakan al-Quran dan al-Sunnah. Ini menunjukkan bahwa aliran ini lebih bersikap regresif dan konservatif.[30]
Jika kita lihat kepada pemikiran filsafat pendidikan, ada dua tipe yang lebih dekat dengan aliran tekstualis salafi, yaitu aliran pendidikan yang termasuk dalam kategori tradisional (perennialism dan essentialism). Perennialism menghendaki kembalinya kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan, sedangkan tekstualis salafi menghendaki agar kembali ke masyarakat salaf (era Nabi dan sahabat). Namun intinya, kedua aliran ini sama-sama regresif. Adapaun  essentialism menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan, dan nilai-nilai ini sampai kepada manusia tentunya telah teruji oleh waktu. Tektualis Salafi menjunjung tinggi nilai-nilai salaf dan perlu dilestarikan keberadaannya, karena masyarakat salaf dipandang sebagai masyarakat yang ideal.[31]
Dalam konteks pemikiran filsafat pendidikan Islam, aliran ini menyajikan kajian tentang pendidikan secara manquli, yakni memahami atau menafsirkan nas-nas tentang pendidikan dengan nas yang lain, atau dengan mengambil pendapat sahabat. Aliran ini berusaha membangun konsep pendidikan Islam melalui kajian tekstual-lughawi atau berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab dalam memahami al-Quran, hadits Nabi, dan perkataan sahabat, serta memperhatikan praktik pendidikan pada era salaf, untuk selanjutnya berusaha mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai tersebut hingga saat ini. Dalam bangunan pemikiran filsafat pendidikan Islam, model ini dapat dikategorikan sebagai tipologi perenial-tekstualis salafi dan sekaligus esensial-tekstualis salafi. Untuk menyederhanakan model ini, maka dapat kita sebut dengan istilah perenial-esensial salafi.[32]
Aliran ini dapat kita lihat sebagaimana yang kita ketahui dari sejarah bahwa ada golongan-golongan yang hanya menggunakan al-Quran secara tekstual semata tanpa melihat konteks. Padahal dalam pendidikan harus dilihat terlebih dahulu apa yang dibutuhkan anak didik dan masyarakat secara umum.
2.      Tradisionalis Madzhabi
Aliran ini berupaya memahami ajaran dan nilai mendasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Sunnah melalui bantuan khazanah pemikiran Islam klasik, namun tidak begitu memperhatikan keadaan sosio-historis masyarakat setempat di mana ia hidup di dalamnya. Hasil pemikiran para ulama terdahulu dipandang sudah pasti tanpa melihat sisi historisnya. Masyarakat ideal bagi aliran ini adalah masyarakat muslim era klasik, di mana menganggap bahwa semua persoalan agama telah dikupas tuntas oleh para ulama terdahulu. Mereka bertumpu kepada ijtihad dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tentang ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan. Kitab kuning menjadi rujukan pokok aliran ini.[33]
Aliran ini menonjolkan akan wataknya yang tradisional dan madzhabi. Tradisional ditunjukkan dalam bentuk sikap, cara berpikir, dan bertindak yang selalu berpegang teguh pada nilai, norma, dan adat kebiasaan yang telah turun temurun dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi sosio historis dengan berubahnya masyarakat dan zaman. Watak madzhabi dari aliran ini diwujudkan dalam kecenderungannya mengikuti aliran, pemahaman, atau doktrin yang dianggap sudah relatif mapan pada masa sebelumnya.[34]
Dengan ketradisionalan dan kemadzhabannya, aliran ini dalam pengembangan pemikiran filsafat pendidikan Islam lebih menekankan pada pemberian penjelasan dari materi-materi pemikiran para pendahulunya tanpa adanya perubahan substansi pemikiran pendahulunya. Pendidikan Islam dengan model ini berupaya mempertahankan dan mewariskan nilai, tradisi, dan budaya serta praktik sistem pendidikan terdahulu dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa mempertimbangkan konteks perkembangan zaman yang dihadapinya. Melihat wataknya yang sedemikian itu, aliran ini juga lebih dekat dengan perennialism dan essensialism, karena wataknya yang masih regresif dan konservatif. Aliran ini disebut tipologi perenial-esensial madzhabi. [35]
Aliran ini membangun konsep pendidikan Islam melalui kajian terhadap khazanah pemikiran Islam terdahulu, baik dalam hal tujuan pendidikan, kurikulum, hubungan guru murid, metode pendidikan, sampai kepada lingkungan pendidikan yang dirumuskan.[36]
Berbeda dengan aliran yang pertama, aliran ini lebih menghargai hasil yang telah diciptakan oleh pendahulunya. Karena aliran ini masih menganggap dan menggunakan sistem pendidikan yang digunakan oleh masa sebelumnya dan hal itu dirasa baik. Namun di sini masih ada sikap tertutup dari aliran ini yang tidak menerima hal-hal yang baru, dan menurut hemat penulis, sikap ini  yang kurang bijak karena apapun di dunia ini selalu berubah.  
3.      Modernis
Aliran modernis berupaya memahami ajaran dan nilai dasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Sunnah dengan melihat kepada kondisi dan tantangan sosio-historis dan kultural yang dihadapi masyarakat muslim kontemporer, tanpa mempertimbangkan muatan-muatan khazanah intelektual muslim era klasik. Aliran ini lebih cenderung untuk selalu maju memasuki teknologi modern. Aliran ini ingin memahami al-Quran secara langsung dan melompat ke dunia modern.[37]
Aliran ini lebih cenderung seperti aliran progressivism dalam aliran filsafat pendidikan, hal ini tercermin dari wataknya yang ingin bebas dari bayang-bayang masa lalu dan modifikatif. Dengan wataknya yang demikian, aliran ini tidak berkepentingan untuk merujuk kepada pemikiran-pemikiran terdahulu karena yang dahulu hanya cocok untuk masa lalu.[38]
Dalam konteks pemikiran filsafat pendidikan Islam, sikap bebas dan modifikatif ini tidak berarti kebebasan mutlak tanpa adanya keterikatan. Pendidikan Islam yang modernis memiliki sikap keterbukaan dan dinamis menuju ke arah yang lebih maju. Untuk mencapai kemajuan tersebut diperlukan keterbukaan untuk membaca teori orang lain, melalui  transformasi, akomodasi, dan bahkan adopsi pemikiran dan temuan ilmu pengetahuan serta teknologi dalam rangka memajukan sistem pendidikan Islam.[39]
Praktik seperti ini banyak kita temukan pada era ini terutama di lembaga pendidikan Islam modern. Dalam pendidikannya telah banyak menggunakan peralatan-peralatan modern dan juga menggunakan metode-metode yang berasal dari luar, namun hal ini tidak membuatnya kehilangan tujuan utama dari pendidikan Islam tersebut.
4.      Neo-Modernis
Aliran pemikiran ini berupaya untuk memahami ajaran dan nilai dasar yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah dengan mengikutsertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik serta mencermati kesulitan dan kemudahan yang ditawarkan dunia modern. Jadi aliran ini selalu mempertimbangkan al-Quran, al-Sunnah, khazanah klasik, dan pendekatan-pendekatan keilmuan era modern. Maka dari situlah terkenal ungkapan “memelihara hal-hal yang baik yang telah ada sambil mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih baik.”[40]
Berdasarkan prinsip-prinsip yang dipakai dan melihat akhir dari jargon di atas menunjukkan adanya sikap dinamis dan progresif serta rekonstruktif walaupun tidak bersifat radikal. Karean itulah, di dalam konteks pemikiran filsafat pendidikan Islam aliran ini dapat dikategorkan sebagai tipologi perenial-esentialis kontekstual-falsifikatif.[41]
Aliran ini dipandang sebagai aliran pembaruan yang mencoba mengintegrasikan secara menyeluruh antara dasar-dasar Islam, khazanah keislaman klasik, dan hal-hal yang baru dan baik. Ini merupakan upaya yang luar biasa dalam pengembangan pendidikan agama Islam yang selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman.

D.    Implikasi Filsafat Pendidikan Islam Terhadap Pengembangan Kurikulum
Aliran-aliran dalam pemikiran filsafat pendidikan Islam di atas tentu  memiliki implikasi terhadap pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam. Di bawah ini akan dijelaskan seditit mengenai implikasi tersebut mulai dari tipologi perenial-esensialis salafi, tipologi perenial-esensialis madzhabi, tipologi modernis, tipologi perenial-esensialis kontekstual-falsifikatif, dan tipologi rekonstruksi sosial berlandaskan tauhid.
1.      Perenial-Esensialis Salafi
Tipologi ini menonjolkan wawasan kependidikan era salaf (era kenabian dan sahabat). Pendidikan diorientasikan kepada penemuan dan internalisasi kebenaran masa lalu yang dilakukan oleh anak didik, menjelaskan dan menyebarkan warisan salaf melalui inti pengetahuan yang terakumulasi dan telah berlaku sepanjang masa dan penting untuk diketahui semua orang.[42]
Pengembangan kurikulum ditekankan pada doktrin agama, kitab-kitab besar, kembali kepada hal-hal yang mendasar, serta mata pelajaran kognitif yang ada pada era salaf. Dalam kurikulum pendidikan agama Islam bidang akidah dan ibadah khusus (shalat, puasa, zakat, haji, nikah, dan lain-lain), atau membaca al-Quran yang dimaksudkan untuk melestarikan dan mempertahankan, serta menyebarkan akidah dan amaliah ubudiyah yang benar sesuai dengan yang dilakukan para salaf.[43]
Metode pembelajran yang dilakukan melalui ceramah dan dialog, diskusi, dan pemberian tugas-tugas. Manajemen kelas diarahkan pada pembentukan karakter, keteraturan, keseragaman, bersifat kaku dan terstruktur. Evaluasi menggunakan ujian-ujian objektif terstandarisasi, dan tes kompetensi barbasis amaliah. Guru memliki otoritas tinggi yang paham akan kebijakan dan kebenaran masa lalu dan tentunya ahli dalam bidangnya.[44]
2.      Perenial-Esensialis Madzhabi
Tipologi ini menonjolkan wawasan kependidikan Islam yang tradisional dan memiliki kecenderuangan untuk mengikuti aliran, pemahaman atau doktrin serta pemahaman pemikiran-pemikiran masa lampau yang dianggap sudah mapan. Pendidikan Islam berfungsi melestarikan dan mengembangkannya melalui upaya pemberian penjelasan dan catatan-catatan dan kurang ada keberanian untuk mengganti substansi materi pemikiran pendahulunya. Di sini pendidikan Islam lebih dijadikan sebagai upaya untuk mempertahankan dan mewariskan nilai, tradisi, dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.[45]
Pendidikan berorientasi pada upaya murid untuk menemukan dan menginternalisasi kebenaran-kebenaran sebagai hasil interpretasi ulama pada masa klasik. Menjelaskan dan menyebarkan warisan ajaran, nilai-nilai, dan pemikiran para pendahulu yang dianggap mapan secara turun temurun. Pengembangan kurikulum ditekankan pada doktrin-doktrin dan nilai agama yang tertuang dalam karya ulama tedahulu mengenai hal-hal yang esensial serta mata pelajaran kognitif yang ada pada masa klasik. Sama seperti aliran sebelumnya namun aliran ini hanya memberikan penjelasan atas pemikiran pendahulunya dan dianggap menyeleweng jika tidak sesuai dengan pendapat pendahulunya. Metode yang digunakan adalah ceramah, dialog, perdebatan dengan tolok ukur pandangan imam madzhab, dan pemberian tugas. Manajemen dan lain sebagainya sama dengan aliran sebelumnya.[46]
3.      Modernis
Tipologi pendidikan Islam aliran ini bersifat bebas, modifikatif, progresif, dan dinamis dalam menghadapi dan merespon tuntutan dan kebutuhan dari lingkungannya, sehingga pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Pendidikan agama Islam diorientasikan pada upaya memberikan keterampilan dan alat-alat kepada anak didik yang bisa digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungannya yang selalu berubah demi menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi yang dilandasi dengan nilai-nilai universal.[47]
Pengembangan kurikulum ditekankan pada penggalian problematika yang dihadapi oleh peserta didik, untuk selanjutnya dilatih dan diajarkan untuk memecahkan masalah tersebut perspektif ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Metode yang digunakan adalah cooverative learning, metode proyek, dan metode ilmiah. Manajemen kelas lebih diarahkan pada pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dan aktif dalam pembelajaran. Evaluasi lebih banyak menggunakan evaluasi formatif. Peranan guru di sini sebagai fasilitator dan pengatur pembelajaran.[48]    
4.      Perenial-Esensialis Kontekstual-Falsifikatif
Aliran ini mengambil jalan tengah antara kebali ke masa lalu dengan jalan melakukan kontekstualisasi serta uji falsifikasi dan mengembangkan wawasan kependidikan Islam masa sekarang dengan berbagai perubahan yang ada.[49]
Tujuan pendidikan agama Islam berorientasi pada penemuan dan internalisasi kebenaran masa lalu pada masa klasik, menyebarkan warisan ajaran, dan nilai salaf yang dianggap mapan, dan pemberian keterampilan kepada anak didik untuk menghadapi segala bentuk perubahan. Untuk lebih jelas, tujuan aliran ini adalah melestarikan nilai ilahiyah dan insaniyah sekaligus menumbuhkembangkannya dalam konteks perkembangan iptek dan perubahan sosio kultural.[50]
Pengembangan kurikulum ditekankan pada pelestarian doktrin-doktrin, nilai-nilai agama sebagaimana tertuang dalam kitab terdahulu yang bersifat esensial. Di lain itu juga ditekankan  pada penggalian problematika yang ada di masyarakat dan dialami oleh anak didik, kemudian dilatih untuk menyelesaikannya sesuai dengan nilai universal.[51]
Metode yang digunakan dalam hal-hal yang bersifat doktrin adalah ceramah dan dialog, diskusi atau perdebatan, dan pemberian tugas. Manajemen kelas lebih kepada pembentukan karakter, keteraturan, keseragaman, sesuai tatanan, dan teratur dalam menjalankan tugas. Evaluasi bersifat objektif dan terstandarisasi, atau tes essay, tes diagnostik, dan tes kompetensi berbasis amaliah. Guru berperan sebagai figur yang memiliki otoritas tinggi dan ahli dalam bidangnya.[52]
5.      Rekonstruksi Sosial Berlandaskan Tauhid
Model ini cocok untuk diterapkan pada masyarakat yang berkeinginan dan potensial untuk maju, dan pada masyarakat yang warganya bersifat individualis. Menurut tipologi ini, pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran peserta didik akan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia, yang merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemeluk agama Islam untuk memecahkan masalah da’wah bi al-hal, baik yang terkait dengan masalah sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya, serta mengajarkan keterampilan untuk memecahkan semua problem tersebut agar dapat berpartisipasi dalam melakukan perbaikan dan amr ma’ruf nahi munkar, sehingga dapat terwujud suatu tatanan masyarakat baru yang lebih baik.[53]
Dalam hal ini, peserta didik dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang berkembang di masyarakat untuk selanjutnya dijadikan sebagai tema proyek kajian, melek berpikir kritis, strategi dan teknik berhubungan dengan masyarakat, bekerja secaka kelompok, toleran, dan cara kerja untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat menuju tatanan yang lebih baik.[54]
Kurikulum memusatkan pada masalah-masalah sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat, dan diharapkan anak didik dapat menyelesaikan masalah tersebut melalui konsep dan pengetahuan yang telah dimiliki. Manajemen dalam pembelajaran ini tidak terlalu terikat pada kelas, tetapi lebih banyak di luar kelas, tidak membedakan jenis kelamin dan ras, serta membangun masyarakat. Interaksi guru dan murid lebih bersifat dinamis, kritis, progresif, terbuka, bahkan bersikap proaktif, dan antisipatif, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai kooperatif fan kolaboratif, toleran, serta komitmen pada hak dan kewajiban asasi manusia. Evaluasi pembelajaran pendidikan agama Islam menekankan pada evaluasi formatif, dengan asumsi bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang lebih maju, serta memiliki kemampuan untuk membangun masyarakat yang lebih baik dengan memerankan ilmu dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat, sehingga diperlukan upaya peningkatan kemampuan, minat, bakat, dan prestasi belajarnya secara terus menerus melalui umpan balik.[55]














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara umum kesimpulan dari paparan penjelasan di atas adalah, bahwa dalam filsafat pendidikan terdapat dua aliran yaitu tradisionalis dan modernis. Tradisionalis diwakilkan oleh perennialism dan essentialism, adapun modernis diwakilkan oleh progressivism dan reconstructionism. Dari sinilah dalam kajian pemikiran Islam juga ada beberapa aliran yaitu Tekstualis Salafi; Tradisionalis Madzhabi; Modernis; dan  Model Neo-Modernis.
Pemikiran filsafat pendidikan Islam pun lahir dari prinsip-prinsip pendidikan Barat dan pemikiran Islam tersebut, namun dalam pendidikan Islam tentu dilandasi oleh al-Quran, al-Sunnah, dan spirit Islam. Kemudian dari beberapa aliran filsafat pendidikan Islam ada beberapa tipologi yang tentunya berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam itu sendiri. Empat tipologi itu adalah perenial-esensialis salafi, perenial-esensialis madzhabi, modernis, dan perenial-esensialis kontekstual-falsifikatif.

B.     Saran
Kami menyadari bahwa tiada kesempurnaan pada manusia karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa di samping memiliki kelebihan dan kebaikan. Untuk menjadi lebih baik dalam segala hal, maka kami mengharapkan protes, kritik, dan saran dari para pembaca yang budiman untuk memberikan kontribusi agar bisa menjadikan tulisan ini lebih baik ke depannya. Semoga bermanfaat  bagi semua. Amin.
                              






Daftar Pustaka

Djumransjah, M. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing
Maunah, Binti. 2009. Landasan Pendidikan. Yogyakarta: TERAS
Muhaimin. 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Jakarta; PT Grafindo Persada
Muhmidayeli. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama
Syar’i,  Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Pirdaus



[1] M. Djumransjah, Filsafat Pendidikan, (Malang: Bayumedia Publishing, 2006), hal. 175-176
[2] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), hal. 154
[3] M. Djumransjah, Op. Cit., hal. 177
[4] Binti Maunah, Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hal.200
[5] Muhmidayeli, Op. Cit., hal. 157
[6] M. Djumransjah, Op. Cit., hal. 185
[7] M. Djumransjah, Ibid., hal. 186
[8] Muhmidayeli, Op. Cit., hal. 158
[9] M. Djumransjah, Ibid., hal. 187
[10] M. Djumransjah, Ibid., hal.187-188
[11] Binti Maunah, Op. Cit., hal. 210
[12] Muhmidayeli, Op. Cit., hal. 163
[13] Muhmidayeli, Ibid., hal. 164
[14] M. Djumransjah, Op. Cit., hal. 181
[15] Muhmidayeli, Op. Cit., hal. 167
[16] Muhmidayeli, Ibid., hal. 169
[17] M. Djumransjah, Ibid., hal. 182
[18] M. Djumransjah, Ibid., hal. 183
[19] Binti Maunah, Op. Cit., hal. 208-209
[20] M. Djumransjah, Ibid., hal. 185
[21] M. Djumransjah, Ibid., hal. 188
[22] Muhmidayeli, Op. Cit., hal. 177
[23] M. Djumransjah, Ibid., hal. 189
[24] M. Djumransjah, Ibid., hal. 190                                                       
[25] Binti Maunah, Op. Cit., hal. 204
[26] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Pirdaus, 2005), hal. 123
[27] Ahmad Syar’i, Ibid., hal. 124
[28] Ahmad Syar’i, Ibid., hal. 125
[29] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. (Jakarta; PT Grafindo Persada, 2005), hal. 88
[30] Muhaimin Ibid., hal. 89
[31] Muhaimin, Ibid.
[32] Muhaimin. Ibid., hal. 90
[33] Muhaimin. Ibid.,
[34] Muhaimin. Ibid., hal. 91
[35] Muhaimin. Ibid., hal. 92
[36] Muhaimin. Ibid.,
[37] Muhaimin. Ibid.,
[38] Muhaimin. Ibid., hal. 93
[39] Muhaimin. Ibid.,
[40] Muhaimin, Ibid., hal. 95
[41] Muhaimin, Ibid., hal. 96
[42] Muhaimin, Ibid., hal. 126
[43] Muhaimin, Ibid.,
[44] Muhaimin, Ibid.,
[45] Muhaimin, Ibid., hal. 127
[46] Muhaimin, Ibid.,
[47] Muhaimin, Ibid., hal. 129
[48] Muhaimin, Ibid.,
[49] Muhaimin, Ibid., hal. 131                             
[50] Muhaimin, Ibid., hal. 131-132
[51] Muhaimin, Ibid.,
[52] Muhaimin, Ibid., hal. 133
[53] Muhaimin, Ibid., hal. 135
[54] Muhaimin, Ibid., hal. 136
[55] Muhaimin, Ibid., hal. 136-138
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Ditulis oleh Aldi Al Bani
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://aldialbani.blogspot.com/2013/01/tipologi-filsafat-pendidikan-islam_4.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment

Tutorial SEO dan Blog support Online Shop Tas Wanita - Original design by Bamz | Copyright of ALDI AL BANI.